surat untuk cinta pertamaku

Untuk cinta pertamaku

             Terimakasih pernah bersedia menawarkan diri untuk menjadi bagian terindah dalam hidupku. Terimakasih telah mengenalkanku warna-warna baru dalam hidup. Aku masih ingat saat pertama kali surat itu aku terima. Tak ada yang mampu menggambarkan perasaanku saat aku baca bait demi bait puisi di dalamnya. Rasanya aku seperti berdiri di atas rasa bahagia itu sendiri. Dimana di hari berikutnya, kamu selalu menghujaniku dengan sikap perhatian, sikap sayang, yang semuanya berhasil kamu ramu menjadi satu dalam sebuah kalimat indah, yang setiap waktunya selalu kamu sampaikan melalui pesan singkat. Kamu pun tak malu-malu memanggilku dengan panggilan sayang. Begitupun sikapku sebaliknya.
           Aku mengerti, waktu itu kita masih tinggal di sebuah asrama, dimana bertemunya laki-laki dan perempuan adalah hal yang tabu juga dilarang. Begitupun dengan membawa alat-alat elektronik semisal handphone. Maka dari itu, melihat punggungmu saja saat di perempatan menuju sekolah, aku sudah merasa sangat bahagia, dan aku mengharapkan hal itu selalu terjadi setiap hari. Rasa rindu yang tertanam berhari-hari sebab tak pernah bertemu, akhirnya berhasil menumbuhkan rasa keberanian yang salah. Tapi itu tidak berlaku bagi kita, dua insan yang sedang dimabukan oleh perasaan. Diam-diam kita selalu menyempatkan waktu bertemu meski hanya beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan sekali. Aku bahkan masih ingat, beberapa tempat yang pernah kita jadikan sebagai tempat persembunyian kita untuk sekedar melepas rindu, sebelum akhirnya menumbuhkan rindu yang baru berkali-kali lipat dari sebelumnya. Salah satunya adalah sebuah warung yang tak jauh dari asrama. Warung yang sempat menjadi saksi bisu diantara sepasang bola mata yang saling beradu untuk mengutakaran isyarat-isyarat penuh rindu, saat mulut seakan kehilangan fungsinya untuk sekedar mengucapkan “bagaimana kabarmu?”. Begitulah setiap kali kita bertemu, jarang sekali ada percakapan diantara kita, hanya ada sepasang bola mata yang saling tatap. Bagiku, menatapmu lamat-lamat adalah hal yang paling kusuka.
                       
          Hari-hari berlalu, kurang lebih satu tahun sudah kita menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Satu tahun sudah aku berbagi keluh kesah denganmu. Menghabiskan banyak malam bersama lewat telfon genggam meski secara sembunyi-sembunyi karena takut sewaktu-waktu ada razia di asrama. Aku masih ingat betapa lucunya kita dulu. Saat pertama kali kamu mengajakku pergi ke suatu tempat, dimana di sepanjang perjalannya kita habiskan dengan saling diam, atau bahkan hanya sekedar saling tatap, lalu masing-masing dari kita melontarkan senyum malu. Entah aku lebih menyukai masa-masa seperti itu dan aku merindukannya.
           Hubungan kitapun terus berlanjut hingga masing-masing dari kita memutuskan untuk memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang sama. Saat itu, aku pikir inilah pilihan yang tepat, dimana nantinya aku berharap bisa bertemu denganmu setiap saat, membuatkanmu sarapan meski aku sendiri sebenarnya tidak jago masak, atau bahkan jika suatu waktu kamu sakit, aku sendiri yang akan merawatmu. Begitu banyak mimpi yang sudah aku bangun untukmu, untuk kita. Sayangnya, aku tidak tahu, apakah mimpiku dan mimpimu itu sama, atau sebaliknya. Tapi, apapun itu, aku selalu berharap agar mimpi-mimpi kita tak pernah saling bertolak belakang. Aku tidak mempermasalahkan adanya perbedaan, sebab aku tahu bahwa setiap orang yang  tercipta tak pernah sama satu sama lainnya. Semoga kamupun demikian.
           Kini, hubungan kita sudah hampir menginjak usia 2 tahun. Aku bahagia hubungan kita bisa bertahan sejauh ini. Setelah sekian banyak duri-duri yang menghalangi perjalan kita, akhirnya kita mampu melewatinya meski aku sendiri tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Sebab takdir masihlah menjadi suatu hal yang tidak bisa ditebak, bahkan dengan rumus matamatika tersulit sekalipun. Tapi setidaknya, sejauh ini kita mampu menjaga kaki masing-masing dari kita agar tidak tertusuk.
          Untuk cinta pertamaku, aku tidak pernah mengharapkan adanya akhir dari suatu hubungan yang sudah dengan senang hati aku bangun. Tapi, seperti yang sudah aku katakan, setiap manusia yang tercipta, itu tidak akan pernah sama satu sama lainnya. Dan setiap takdir adalah kemutlakan yang harus kita sambut dengan lapang dada. Aku menghargai keputusan yang telah kamu buat. Meski tetap saja ada sesak yang aku rasakan setiap kali aku mengingat kepergianmu yang sebelumnya tidak pernah kamu diskusikan terlebih dahulu.
          Aku ingat ada pepatah yang mengatakan tak ada gading yang tak retak. Begitupun dengan hubungan kita. Semua tak akan pernah berjalan mulus, selalu ada rintangan untuk mencapai segala tujuan. Tapi satu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, yaitu saat kamu memilih berhenti mengejar semua yang telah kita bangun setengah mati. Kamu pergi tepat di persimpangan memilih jalan lain, lalu memalingkan badan dan lantas meninggalkanku sendirian. Aku sendiri masih tidak paham apa yang membuatmu sedemikian tega melakukan itu semua. Berbagai informasi aku cari untuk mengetahui sebab kamu pergi, hingga akhirnya aku sadar, bagimu aku tidak pernah menjadi seperti apa yang kamu inginkan. Katamu, aku terlalu egois, aku selalu cemburu ketika melihatmu bersama perempuan lain. Yah, aku salah. Tapi, apa pergi bersama perempuan lain dan berbohong dengan mengatakan bahwa kamu sedang bersama teman laki-lakimu itu dibenarkan?
           Sejak saat itu, berhari-hari aku terus memaki diri kenapa aku tidak bisa menjadi apa yang kamu mau. Mengapa dua tahun lamanya aku tidak berhasil membuatmu bertahan lebih lama. Mengapa!. Berbulan-bulan pula aku menangisi sisa perasaan, mengais sisa kenangan, dan yang terpedih adalah aku harus meratapi sisa harapan yang sudah aku junjung sedemikian tinggi sebelum akhirnya kamu datangkan badai untuk membuatnya hancur tak berupa. Dan semua itu aku lakukan sendirian.
           Saat ini, hampir satu tahun sudah kejadian menyakitkan itu berlalu. Satu tahun sudah aku menyadari bahwa ada sebagian janji yang tak berhak dipenuhi, dan ada sebagian lagi yang berhak untuk diingkari. Terimakasih pernah menunjukan kepada dunia bahwa aku adalah perempuan normal. Terimakasih pernah membuatku merasakan jatuh cinta di masa remaja, sebelum akhirnya aku merasakan jatuh sejatuh-jatuhnya. Sekarang aku sadar, bahwa janji manis tak seharusnya membuatku terus menerus terlarut dalam tangis. Semoga kamu tidak akan pernah lupa bahwa dulu kita pernah sehangat nafas, sebelum akhirnya sedingin bongkahan es di samudra lepas.


Cirebon, 08 Agustus 2017
                       
                       
                       

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer